desainlpa
Iklan Terkeren

Iklan Terkeren

Semakin Kamu ngiklan semakin kamu boncos
Coba Dulu
Foto saya

Landing Page Design

1,3 rb pengikut · 13 mengikuti · 1 rb postingan

Profil · Kreator digital

Kreator digital Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Bundles of Joy University Berlin Campus

Berkarya untuk hidup, hidup untuk berkarya

Teman yang memiliki kesamaan

Tata cara dan dalil seputar fidyah yang umum di Masyarakat

Di beberapa daerah di Jawa, ada kebiasaan yang dikenal dengan nama fidyah, yaitu memberikan beras kepada fakir miskin untuk menebus sholat dan puasa orang yang sudah meninggal. Biasanya keluarga mayyit mengundang jamaah, lalu memberikan sejumlah beras sebagai tebusan seluruh sholat dan puasa mayyit selama hidupnya.

Fidyah dan cara Menghitungnya

Karena jumlah beras terbatas, biasanya beras tersebut "diputar" terlebih dahulu oleh beberapa orang — ada yang memberi, ada yang menerima — sebagai simbol tebusan sholat mayyit. Setelah putaran selesai, baru dilakukan lagi putaran untuk menebus puasa mayyit. Setelah semua selesai, beras itu dikembalikan kepada keluarga mayyit untuk kemudian dibagikan sebagai sedekah.

Bagaimana hukum praktek fidyah dan cara perhitungannya?

Mayoritas ulama Malikiyah, Hanabilah dan Syafi'iyah tidak memperbolehkan membayar fidyah qodho’ sholat orang yang sudah meninggal dengan memberikan makanan. (Mausu’ah Al-Fiqhiyah 25/83).

Namun dalam mazhab Syafi’i ada perbedaan pendapat. Menurut pendapat yang mu’tamad, sholat mayyit tidak bisa diganti dan tidak bisa dibayar fidyah. Tetapi ada pendapat lain yang membolehkan orang lain mengqodho’ sholat mayyit, di antaranya yang dipraktekkan oleh Imam As-Subki.

Pendapat ulama Syafi’iyah lainnya mengatakan boleh membayar fidyah setiap sholat sebanyak 1 mud. Imam Al-Muhib At-Thobari juga mendukung bahwa pahala ibadah dapat sampai kepada mayyit.

Menurut Ahlus Sunnah, pahala ibadah seseorang boleh dihadiahkan kepada orang lain dan bisa sampai. (I’anah At-Tholibin 1/30).

Menurut ulama Hanafiyyah, sholat mayyit harus dibayar fidyah jika mayyit berwasiat. Jika tidak berwasiat, atau jumlah biaya fidyah lebih dari sepertiga harta warisan, maka tidak wajib — tetapi ahli waris boleh melakukan tabarru’ (berbuat baik) dengan membayarnya. (Roddul Mukhtar 2/72).

Cara Menghitung Fidyah

Cara menghitungnya adalah dengan menghitung umur mayyit dikurangi umur balighnya. Contoh: umur mayyit 60 tahun, umur baligh 15 tahun → berarti 45 tahun kewajiban ibadah.

Setelah itu dihitung jumlah makanan fidyah sesuai perhitungan tersebut, lalu diberikan kepada fakir miskin.

Jika beras tidak mencukupi, maka dilakukan tabarru’: ahli waris memberikan makanan kepada fakir miskin, lalu fakir miskin menyerahkan kembali kepada ahli waris — diputar hingga jumlah fidyah terpenuhi. Setelah itu dilanjutkan dengan fidyah puasa.

Contoh kasus:

  • Umur difidyahi: 45 tahun
  • Sholat setahun: 5 waktu × 360 hari = 1800
  • Beras tersedia: 210 kg (300 mud)
  • Orang yang memfidyai: 10 orang

Maka hasilnya:

  1. 45 tahun × 1800 waktu = 81.000 waktu sholat
  2. 81.000 : 300 mud = 270 pasrahan
  3. 270 : 10 orang = 27 putaran

Shighot Tebusan (Contoh)

1. Bahasa Jawa (Putaran Pertama)

“Pak kulo gadah ewos kathahipun 300 mud, kulo paringaken dhateng panjenengan kangge nebusi tilar sholat fardluipun pak Fulan bin Fulan kathahipun 300 wekdal.”

Penerimaan Jawa: “Enggih, kulo tampi.” Penyerahan Arab: “وَهَبْتُكَ هَذَا لِلْمَعْلُومِ” Penerimaan Arab: “قَبِلْتُ”

Menghitung Fidyah Puasa

  • 30 hari × 45 tahun = 1350 hari
  • 1350 : 300 mud = 4,5 pasrahan

Shighot Puasa

“Pak kulo gadah ewos kathah ipun 300 mud, kulo paringaken dateng panjenengan kangge nebusi tilar puasa fardluipun pak Fulan bin Fulan kathahipun 300 dinten...”

Penerimaan: “Enggih, kulo tampi.”

Penyerahan Arab: “وَهَبْتُكَ هَذَا لِلْمَعْلُومِ”

Penerimaan Arab: “قَبِلْتُ”

Kesimpulan

  • Fidyahan tidak wajib jika tidak ada wasiat, tetapi sunnah dan dianjurkan.
  • Pemberian fidyah harus kepada fakir miskin.
  • Peserta pemutar fidyah juga harus fakir miskin.
  • Biaya fidyah tidak boleh diambil dari harta warisan yang ada ahli waris tidak ridha atau ada yang mahjur ‘alaih.

Wallahu A’lam.

Sumber: LBM PCNU Kebumen

Postingan Terkait

3 komentar: